Misteri Lorong Khusus Nyi Roro Kidul Di Goa Seplawan

Nyi_Roro_Kidul

Misteri Lorong Khusus Nyi Roro Kidul Di Goa Seplawan

 

Goa yang menyimpan misteri ini terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purwokerto, Jawa Tengah. Goa ini menjadi geger karena ditemukannya arca Dewa Syiwa dan Parwati yang terjadi pada hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon) 28 Agustus 1979 silam. Waktu itu, Goa Seplawan kondisinya benar-benar masih perawan. Sebab, untuk memasuki goa tersebut, sangat berbeda dengan memasuki goa-goa lainnya yang ada di Indonesia. Harus masuk lubang menuruni tangga seperti mau nyemplung sumun (masuk sumur).

Kini, kondisinya pun belum jauh berbeda. Perbedaannya hanya terdapat pada kondisi di dalamnya yang sudah agak bersih, tidak dipenuhi lumpur seperti tahun 1979-an. Yang jelas, bagi para petualang goa, memasuki Goa Seplawan pasti akan mempunyai catatan khusus. Di samping lokasinya cukup menarik, berudara sejuk, lingkungannya juga masih alami. Jalan yang berkelok-kelok dihiasi berbagai jenis pepohonan rindang, menjadi pemandangan yang takkan terlupakan. Panorama sepanjang perjalanan itu benar-benar mampu menghipnotis pengunjung.

Dinas Pariwisata Daerah (DIPARDA) Kabupaten Purworejo sudah melengkapinya dengan fasilitas. Selain topi pengaman, dilengkapi pula dengan lampu penerang, dan jalan walau belum sempuran. Tetapi, dengan sarana dan prasarana yang sangat sederhana itu, justru menjadi daya tarik tersendiri bagi objek wisata satu ini. Terasa masih bagai perawan yang menawan. Lokasinya sekitar 10 km arah timur pusat kota Kabupaten Perwokerto, dan berada di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut.

bf4ce9ff7a8258c8bf57813fb6808107Di perut goa, panoramanya sungguh menawan. Selain dihiasi stalagmite dan stalagtit yang menawan, juga terdapat flowstone, helkite, soda straw dan dinding-dinding goa menyerupai ikan yang menawan setelah menuruni anak tangga sekitar tujuh meter dalamnya. Ternyata, di dalam goa tersebut sangat lega. Untuk dapat menikmati keindahan Goa Seplawan, tninggal mengikuti lampu penerangan yang di pasang pihak DIPARDA Kabupaten Purworejo sepanjang 750 meter. Jika ingin tahu lebih mendalam, pihak pemerintah daerah juga menyediakan pemandu (guide) yang dapat menjelaskan sejarah Goa Seplawan.

Goa Seplawan, salah satu goa dari berbagai goa yang terdapat di daerah ini dan memiliki sejarah panjang. Namanya baru mencuat kepermukaan sejak ditemukannya dua arca emas.

Penemuan Arca Emas

Menurut data Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kota Purworejo, pada awal juli 1979, Bupati Purworejo yang kala itu H. Supanto mengadakankonferensi Kepala Desa dan Kelurahan se-Kabupaten Perworejo bertempat di Pendopo Kabupaten Perworejo.

Pada konferensi tersebut, Bupati Purworejo menyampaikan gagasannya bahwa dari semua kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah, hanya Kabupaten Purworejo yang belum mempunyai obyek wisata. Mengingat banyak Desa yang ada di Kabupaten Purworejo yang wilayahnya ada goanya, maka Bupati Purworejo memerintahkan kepada Kepala Desa yang wilayahnya ada goanya agar diteliti dan apabila memungkinkan untuk tempat wisata mohon dilaporkan kepada bupati. Hal tersebut ditanggapi oleh Kepala Desa Tlogoguwo dan Kepala Desa Donorejo Kecamatan Kaligesing.

Kemudian pada awal Agustus 1979, Kepala Desa Tlogoguwo melaporkan 2 buah goa, yaitu Goa Anjani dan Goa Semar, yang kemudian diresmikan sebagai obyek wisata oleh Bupati Purworejo pada Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-34 (17 Agustus 1979). Seolah tak mau ketinggalan, Kepala Desa Donorejo, Sastro Tinoyo, dalam rapat selapanan desa juga memerintahkan Kepada Dusun Keterban, Semirejo, membentuk tim yang direncanakan akan menelusuri Goa Seplawan dan Goa Sendangsri yang ada di Desa Donorejo. Tim tersebut beranggotakan :

  1. Sastro Tinoyo, Kepala Desa Donorejo selaku ketua tim
  2. Parmo Sentono, Sekertaris Desa
  3. Semirejo, Kepala Dusun Keterban
  4. Ngudiyo, Ka.Ur Pemerintahan
  5. Cokro Tinoyo, Penunjuk jalan
  6. Muji Wiyono, Tokoh Masyarakat

Dengan diikuti masyarakat sejumlah 47 orang, maka pada hari Selasa Kliwon, 28 Agustus 1979 tim beserta masyarakat memasuki Goa Seplawan dengan peralatan tangga bambu dan penerangan petromak yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setelah perjalanan sekitar 1,5 jam dan menempuh jarak 750 meter, ada salah satu anggota tim yang melaporkan kepada tim bahwa, ada 3 orang pemuda bernama Slamet, Lebuh, dan Sukir menemukan sebuah barang berbentuk kendogo dari perunggu semacam termos yang di dalamnya kelihatan sesuatu yang bersinar. Karena takut, pemuda itu tidak berani mengambil barang tersebut.

Singkat cerita, barang tersebut kemudian diambil oleh Bapak Semirejo dan dilaporkan kepada Kepala Desa Donorejo untuk dibawa keluar goa. Selanjutnya diperintahkan oleh Kepala Desa Donorejo, semua tim dan anggota masyarakat supaya keluar membawa barang tersebut untuk di bawa pulang menuju Pendopo Kelurahan Donorejo. Setelah sampai Pendopo Kelurahan, wadah mirip kendogo itu dibuka. Semua orang terkejut sebab ternyata wadah itu berisi sepasang arca emas berbentuk Raja dan Permaisuri. Saat itu juga, Kepala Desa Donorejo langsung memerintahkan kepada Ngudiyo supaya melaporkan kepada Camat Kaligesing. Supardi, Camat Kaligesing waktu itu, langsung melaporkan temuan tersebut kepada Bupati Purworejo H. Supanto.

file074Secara kebetulan, saat itu Bupati Purworejo akan upacara di Semarang dalam rangka penerimaan Bendera Purna Karya Nugraha dari Presiden RI untuk Provinsi Jawa Tengah. Arca emas tersebut dilaporkan kepada Gubernur Jawa Tengah oleh Bupati Purworejo. Sejanjutnya oleh Gubernur Jawa Tengah diserahkan kepada Menteri Sosial yang kala itu di jabat oleh Intan Suweno. Sampai saat ini, arca emas tersebut disimpan di Direktorat Perlindungan Sejarah dan Purbakala Jakarta. Sedangkan menurut hasil penelitian dari Pusat Penelitian dan Penembangan Geologi Direktorat Jenrdal Pertambangan Umum Departemen Pertambangan dan Energi bandung (1981) sepasang arca emas tersebut adalah Siwa dan Parwati.

Kini, Dewa Siwa dan Parwati seberat 1,5 kilogram itu menjadi koleksi Museum Pusat (Museum Gajah) di Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta. Yang berada di depan Goa Seplawan hanya replikanya saja.

Pertapaan Orang Suci

Menurut informasi yang diperoleh, beberapa bulan setelah penemuan arca emas tersebut, para arkeolog bersama ahli yang lain mengadakan penelitian di Goa Seplawan. Mereka sempat menemukan tulisan dalam bahasa sansekerta di dinding atas goa yang setelah di eja bertulis “Saplu Wan” dalam terjemahannya berarti “manusia suci”. Atas dasar temuan ini, maka Goa Seplawan sejatinya cocok jika disebut sebagai situs sejarah. Apalagi di depan mulut Goa Seplawan juga masih ditemukan serpihan-serpihan sejarah masa kejayaan Wangsa Syailendra di daerah Kedu Selatan, yakni Lingga dan Yoni di situs Candi Gondo Arum.

Menurut Pak Somo Inangun yang kini berusia 79 tahun, salah seorang di antara yang menemukan arca emas di Goa Seplawan ini dikenal masyarakat dengan sebutan Gang Seplawan. Kadang ada pula yang menyeutnya Pertapaan Sapluwan. Plu artinya murni, Wan artinya orang. Terjemahan lengkapnya Goa Seplawan artinya Tempat pertapaan orang suci.”. di ujung goa sebelah tenggara, terdapat terowongan (lorong) yang hingga kini belum dibuka. Karena konon, lorong itu mengandung gas beracun dan berbahaya bagi pengunjung. Menurut Pak Somo Inangun, lorong itu tebus ke Samudra Hindia (laut kidul). Bahkan ada yang mengatakan, lorong itu merupakan jalan khusus bagi Nyi Roro Kidul jika ingin bertemu dengan para petapa yang ingin berkomunikasi langsung dengan penguasa Laut Selatan itu. Sedangkan lorong-lorang lainnya. Juga mempunyai sejarah masing-masing. Namun, hingga kini belum ada yang bisa menjabarkannya secara tuntas dan benar.

Yang jelas, ketila mendekati lorong-lorong tersebut, aroma mistisnya begitu terasa. Demikian pula ketika ditemukannya Situs Candi Gondo Arum. Konon, ketika Candi itu ditemukan, di lokasi candi itu tercium bau sangat harum. Aroma itu semakin menyengat ketika penggalian candi dilakukan. Oleh karena itu, setelah situs candi tersebut ditemukan, disepakati diberi nama Candi Gondo Arum.

Sendang Wening

Lorong Goa Seplawan juga memiliki sendang wening (telaga kecil) yang disinyair adalah tempat menyucikan diri pada peradaban masa lalu. Di samping itu, terbetik juga kisah sebuah tempat dimana Sunan Bonang mengajarkan Hakikat Islam kepada Sunan Kalijaga. Hal terbukti dengan terdapatnya padasan (wadah air wudhu) yang berada di dalam goa. Sementara dalam pandangan berbeda, arca kencana memberikan isyarat bahwa di lokasi tersebut pernah menjadi tempat bermukim bangsawan terdahulu dan hal tersebut diperkuat dengan ditemukannya lingga dan yoni serta onggokan batu yang disinyalir sebagai bangunan atau candi di masa lalu. Lingga yoni dan bekas reruntuhan batu tersebut dapat kita lihat di sebelah kanan sebelum kita menuju mulut Goa Seplawan.

Mitos sendang wening dan sebuah tempat hamparan batu seperti tempat wejangan (pengajaran) memang terus berkembang. Ada beberapa orang yang datang ke lokasi ini dengan didasari niat membersihkan diri dalam doa dengan melakukan meditasi berhari-hari di dalam goa. Kabarnya, banak yang mengalami sensasi ghoib di saat melakukan ritual di goa ini. Salah satu kisah ghoib tersebut dihubung-hubungkan dengan eksistensi Nyi Roro Kidul yang legendaris.

Jalur Khusus Nyi Roro Kidul

Sementara itu, belum terungkapnya 34 lorong Goa Seplawan itu, selain dianggap berbahaya, karena mengandung das racun (belerang) yang kuat, masyarakat selalu mengaitkan lorong-lorong goa tersebut sebagai jalur khusus penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul dengan para petapa yang menjalin hubungan batin dengan penguasa laut selatan itu. Hal-hal yang berbau mistis seperti itu, masih kental merasuki kepercayaan masyarakat pesisir Selatan. Hanya yang pasti, Goa Seplawan selain menjadi obyek wisata petualangan yang menawan plus menantang, juga memiliki nilai sejarah tersendiri. Sejak ditemukan kedua arca emas di dalam goa tersebut, Goa Seplawan kini banyak dikunjungi wisatawan dan mampu mengatrol pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata.

urlYang tak kalah menarik, tak jauh dari Goa Seplawan, terdapat obyek wisata andalan Kecamatan Kaligesing dan Kabupaten Purworejo khususnya, yakni Curug (air terjun) Joketro di Desa Joketro, kelurahan Kaligono, Kecamatan Kaligesing. Lokasinya 12 km sebelah timur pusat kota Kabupaten Purworejo. Curug ini memiliki dua air terjun, yakni Curug Si Klutuk setinggi 30 meter dan Curug Silangit  setinggi 100 meter. Lokasinya berada sekitar 240 meter di atas permukaan laut. Jika kedua obyek wisata tersebut dikemas secara profesional, dapat menjadi paket wisata andalan Kabupaten Purworejo.

Selain obyek wisata goa dan air terjun, wisatawan pun dapat menikmati duren Kaligesing yang terkenal manis dan sop, sate serta gule daging kambing Ettawa. Hanya satu-satunya jenis kambing yang menjadi andalan dan kebanggaan kota pensiunan ini. Jika mau ke Goa Seplawan, persis di perempatan WR. Soepratman sedang menenteng biola. Biasanya, pengunjung akan di hiburr dengan tarian tradisional khas Purworejo, Dolalak.

ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>